UNGARANNEWS.COM. BOYOLALI- Tradisi padusan dilakukan setiap menjelang bulan ramadhan. Sebuah tradisi ritual untuk menyucikan diri sebelum menjalankan ibadah puasa Ramadan 1440 H.
Tradisi ini juga selalu dilakukan warga di Boyolali. Di bawah penyelenggaraan Pemkab Boyolali tradisi yang telah berlangsung turun-temurun sejak nenek moyang itu, digelar di Umbul Ngabean, komplek wisata umbul Tirto Marto, Pengging, Kecamatan Banyudono, Boyolali, Sabtu (4/5) pagi. Di umbul pemandian peninggalan Raja Surakarta, PB X.
Atraksi menarik digelar pada tradisi ini, penampilan kelompok seni musik tradisional Ciblon di Umbul Ngabeyan. Musik ciblon sering dimainkan remaja pedesaan saat mandi di sungai sehingga menjadi ciri khas masyarakat Desa Dukuh, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali itu.
Musik ciblon dihasilkan mereka dengan memainkan air melalui hentakan dan pukulan tangan hingga mengeluarkan bunyi yang kompak, mengiringi tembang daerah.
Kelompok musik ciblon dari Desa Dukuh itu beranggota 12 remaja. Penampilan mereka mengiringi sejumlah tembang daerah, antara lain Gambang Suling, mendapatkan sambutan berupa tepuk tangan ratusan warga yang hendak padusan di tempat itu.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Boyolali Wiwis Trisiwi Hadayani mengatakan mereka memainkan air sungai yang jernih dalam padusan itu dengan membawakan sejumlah lagu sebagai hiburan khas daerah setempat.
“Musik ciblon ini hingga sekarang masih dilestarikan oleh warga, terutama kaum remaja, saat mereka bermain air di sungai atau sendang lainnya, tempat untuk mandi,” kata dia.
Tradisi padusan di Umbul Ngabeyan Pengging diawali dengan kirab budaya dengan dua pasangan laki-laki dan perempuan yang mengenakan pakaian pengantin berpakaian adat jawa. Kirab diawali dari Kantor Kecamatan Boyodono menuju sumber air tersebut.
Pada kirab itu, juga tampil antara lain kelompok pasukan pembawa bendera Merah Putih, dua kelompok drum band, kelompok seniman, perias, seni reog, dan kesenian lainnya. Wakil Bupati Boyolali M. Said Hidayat bersama jajaran forkopimda setempat juga mengikuti kirab dengan sejumlah kereta kuda.
Padusan disambut dengan suka ria oleh warga Pengging. Tampil juga beberapa hiburan seni tradisional, termasuk pentas tarian.
Satu di antara dua pasangan simbol pengantin itu turun ke Umbul Ngabean. Mereka meragakan mandi di tempat itu, sebagai simbol menyucikan diri, sebelum menjalani puasa Ramadhan selama sebulan ke depan. (ist/ant/tm)