UNGARANNEWS.COM. JAKARTA- Gempa dan tsunami yang terjadi di Palu serta Donggala, Sulawesi Tengah menyebabkan sebanyak 2.045 orang meninggal dunia. Pemerintah pun mulai menyiapkan skenario rekonstruksi dan rehabilitasi di sejumlah wilayah yang hancur di Sulteng, pascagempa menghantam, Jumat (28/9) lalu.
Berikut ini adalah sejumlah fakta penanganan gempa dan tsunami di Sulteng hingga Rabu (10/10/2018) malam. Korban meninggal dunia bertambah 35 orang dibandingkan hari kemarin, 2.010 jiwa. Jadi, korban meninggal dunia untuk hari ini tercatat 2.045 jiwa.
“Jumlah korban jiwa per 10 Oktober 2018 pukul 13.00 WIB, 2.045 orang meninggal dunia,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho di kantornya, Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Rabu (10/10/2018).
Sejumlah petugas Kemenkes menyemperot jasad-jasad korban gempa dan tsunami di Palu-Donggala, Sulteng. Penyemprotan itu dilakukan untuk mencegah penyakit menular dari bakteri di jasad-jasad korban.
“Ini adalah upaya pencegahan yang kami lakukan agar bakteri dari mayat manusia tidak menyebar sebab penyebarannya sangat mudah yakni bida melaui udara dan lalat atau serangga,” kata Petugas Kementerian Kesehatan, Eko Budi.
Pendataan kerugian serta kerusakan akibat gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng) masih terus dilakukan. Namun instruksi dari Wakil Presiden Jusuf Kalla (Wapres JK), rehabilitasi dan rekonstruksi direncanakan mulai awal bulan depan.
“Rehabilitasi dan rekonstruksi dijadwalkan mulai awal November 2018,” tambah Sutopo Purwo Nugroho mengutip instruksi dari Wapres JK itu di kantornya, Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Rabu (10/10/2018).
Pemerintah Indonesia dan World Bank tengah mendalami dan membahas anggaran untuk membangun kembali Sulawesi Tengah pasca diterjang gempa dan tsunami. Anggaran tersebut berupa bantuan dan pinjaman World Bank yang akan dilunasi dalam jangka waktu 35 tahun.
“Lagi dibicarakan (anggaran untuk pembangunan kembali Sulteng) segera. Ya nantilah disampaikan,” ujar Wapres JK usai menerima kunjungan kehormatan CEO World Bank Kristalina Georgieva, di Westin Hotel Bali, Rabu (10/10/2018).
JK mengatakan anggaran yang tengah dibahas itu berupa bantuan dan pinjaman dari World Bank. “Ada bantuan dan pinjaman, tapi jangka panjang, 35 tahun, jadi tidak terasa nanti,” kata JK.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) Yohana Yembisa mengimbau anak-anak korban tsunami jangan diadopsi dalam waktu dekat. Menurutnya, budaya Indonesia mengajarkan anak-anak yang ditinggal orang tua, dirawat oleh kerabat dan saudara orang tua.
“Adopsi anak-anak tidak masuk dalam agenda dan terlalu dini sebab masyarakat Indonesia memiliki budaya keluarga di mana seorang anak sejak kecil diasuh dan dibesarkan oleh kerabat dekatnya jadi kami akan mengatur anak-anak yang kehilangan orangtua akan diserahkan kepada kerabat terdekatnya,” kata Yohana di tenda pengungsian Petobo, Palu, Rabu (10/10/2018). (dtc/01)