Letusan gunung Merapi terjadi sekitar pukul 13.30, Rabu (27/1/2021) terlihat lebih besar dan tebal. FOTO:IST/TANGKAPAN LAYAR

UNGANNEWS.COM. BOYOLALI- Gunung Merapi meletus lagi pada Rabu (27/1/2021) secara bertahap mulai pagi dini hari hingga pukul 13.30 WIB. Warga di sekitar Gunung Merapi meletus segera melakukan evakuasi. Sirine pertanda Gunung Merapi meletus juga dibunyikan agar tidak ada warga yang tertinggal.

Merujuk akun Twitter @Merapi_Uncover, Gunung Merapi meletus tepatnya pada pukul 13.39 WIB. Akun Twitter ini melaporkan Gunung Merapi meletus dari Desa Ngrangkah, Umbulharjo, Yogyakarta.

“Sirine untuk Ngrangkah sudah dinyalakan, mohon izin untuk bergeser ke bawah,” kata Sumo, warga yang memvideokan Gunung Merapi Meletus melalui akun Twitter @Merapi_Uncover.

Tercatat sekitar pukul 10:11 WIB, awan panas guguran tercatat di seismogram dengan amplitudo 30 mm dan durasi 124 detik. Tinggi kolom tak teramati, cuaca berkabut, estimasi jarak luncur 1.200 m ke arah barat daya: hulu Kali Krasak dan Boyong. Pukul 11:10 WIB teramati awan panas guguran tercatat di seismogram dengan amplitudo 30 mm, dan durasi 100 detik, tinggi kolom tak teramati karena cuaca berkabut.

Letusan Merapi teramati menyebabkan wilayah sekitarnya diguyur hujan abu. Terpantau di wilayah Boyolali, hujan abu menaburi sejumlah desa di Kecamatan Tamansari, dan Kecamatan Musuk. Tingkat ketebalan hujan abu di lereng sisi timur Merapi ini bervariasi. Paling tebal yakni di wilayah Desa Sangup.

Sekretaris Desa Sangup, Kecamatan Tamansari, Sri Hartanto, mengatakan hujan abu yang mengguyur wilayah Desa Sangup juga bercampur pasir lembut. Paling tebal yaitu di Dukuh Beling dan Sudimoro, yang merupakan dukuh paling atas di Desa Sangup. Baca Juga: Merapi Pagi Ini Kembali Meletus, Tinggi Kolom Erupsi 6 Kilometer

“Yang di daerah atas itu semakin tebal, daerah Dukuh Beling, Sudimoro (Desa Sangup) itu tebal hujan abunya campur pasir,” jelasnya kepada wartawan saat dihubungi, Rabu (27/1/2021) siang.

Dituturkan, pada pagi hari sekitar Pukul 06.00 WIB sudah turun hujan abu, meski intensitasnya tipis. Kemudian siang ini turun hujan abu yang lebih tebal.

“Saat ini sudah reda tapi ini kan keadaannya tidak hujan, debunya ya agak menggangu,” tandasnya.

Hujan abu di Kecamatan musuk terpantau paling tebal terjadi di Desa Sruni dan Cluntang. Siang hari hujan abu cukup tebal, turun bercampur pasir tipis. Beruntung tidak lama kemudian turun hujan air.

“Suara hujan abu yang jatuh di pepohonan terdengar kemresek. Berjalan sekitar 5 meter, sudah mengotori baju. Alhamdulillah sudah turun hujan, abunya luruh bercampur air hujan,” ungkap Priyanto warga Dukuh Rejosari Desa Sruni kepada wartawan, Rabu (27/1/2021) siang.

Sementara itu, sejumlah warga bermukim di di sisi selatan Merapi mulai mengungsi. Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Joko Supriyanto mengatakan, pihaknya sudah meminta warga di padukuhan Turgo RT 03 dan 04, Kalurahan Purwobinangun, Pakem segera turun gunung dan mengungsi sementara di SD Sanjaya Tritis.

“Saya perintahkan, agar tidak waswas, mengungsi sementara di Tritis,” kata Joko Supriyanto kepada wartawan, Rabu (27/1/2021).

Menurut dia, jumlah total warga di dua wilayah rukun tetangga (RT) padukuhan Turgo tersebut kurang lebih 150 jiwa. Namun, Joko belum mengetahui secara pasti, berapa warga yang akhirnya mengungsi akibat letusan Merapi. (dbs/jap/tm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here