Hamparan air menggenangi lapangan Alun-Alun Bung Karno, Kalirejo, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Minggu (31/5/2020). FOTO:ABI/UNGARANNEWS

UNGARANNEWS.COM. UNGARAN TIMUR- Pemandangan tidak biasa terlihat di lapangan Alun-Alun Bung Karno, Kelurahan Kalirejo, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Minggu (31/5/2020).

Hamparan air yang menutupi hampir seluruh lapangan sangat menarik perhatian pengunjung yang tengah berolahraga. Kebanyakan mereka melakukan joging mengelilingi lapangan sambil sesekali melihat hamparan air yang sepintas mirip sebuah danau.

Dari pantauan UNGARANNEWS.COM tampak permukaan air menampilkan bayangan ornamen serupa langit yang berada di atasnya. Pemandangan romantis juga terlihat saat hadirnya dua angsa yang berenang dan berkejaran.

“Indah sekali pemandangan air di lapangan Bung Karno pagi ini. Apalagi ada angsa yang berenang kesana-kemari. So sweet. Ini seperti danau tiban, hanya ada saat hujan deras,” ujar Monic (20) warga Jalan Ahmad Yani (Asmara) Ungaran kepada UNGARANNEWS.COM, Minggu (31/5/2020).

Gadis berlesung pipit ini menuturkan, munculnya danau tiban menjadi momen mengabadikan panorama air yang menghiasi lapangan Bung Karno. Ia yang tengah berolahraga joging turut berhenti sejenak berselfie dengan latar berlakang hamparan air.

“Tapi ini banjir lho. Bukan danau sungguhan. Meski terlihat indah tapi bukan semestinya di sini ada air. Tempat ini untuk olarahraga dan beraktifitas warga. Karena ada air banjir kita tidak bisa masuk ke lapangan,” tandasnya dengan wajah mendadak serius.

Staf UPTD Wisata Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang Heri Wiyanto ketika ditemui UNGARANNEWS.COM di kantor sekretariat Alun-Alun Bung Karno mengatakan, genangan air di lapangan memang sisa banjir. Muncul saat hujan deras mengguyur kawasan Alun-alun dan sekitarnya.

“Genangan air akibat curah hujan tinggi tadi malam. Air tidak bisa meresap karena kontur tanah dulunya sawah, tidak mudah menyerap air hujan,” ujarnya.

Penyebab lapangan banjir, lanjut Heri, tinggi tanah lapangan tidak rata, ada cekungan yang membuat air menghimpun. Di samping itu saluran pembuangan air hanya ada di pinggir lapangan, sehingga air yang menggenang di tengah tidak bisa mengalir.

“Saluran air juga kemungkinan tersumbat kotoran. Seperti sampah tusuk sate dan bungkus makanan. Saluran sudah ada tapi tidak bisa maksimal,” tambahnya.

Menurut Heri bagian lapangan memang sudah waktunya diuruk dan diratakan. Saluran air perlu dibenahi dan bersihkan. Pasalnya, meski sudah dibuat ratusan biopori di lapangan tapi air tidak bisa terserap maksimal.

“Kalau pas ada event biasanya air segera disedot dengan pompa, tapi kalau tidak ada kegiatan air dibiarkan sampai kembali mengering,” pungkasnya. (abi/tm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here